“… this is the world we live in. And justice does not always prevail. It’s not the Wild West, where you can clean up the streets with a gun, even though sometimes that’s exactly what’s needed…”
SHOOTER (the movie - 2007)
Barusan nonton film ini lusa kemarin. Aku suka film ber-genre aksi ini karena jalan ceritanya memang bagus, tentang seorang Sniper yang dijebak konspirasi pembunuhan seorang bishop Ethiopia, sehingga seolah2 dia menjadi tersangka. Hmm, tp di sini saya tidak mau membahas sinopsis film ini, saya mau sedikit mengulas kuote kalimat diatas. Yup, aku suka sekali kalimat diatas.
Itulah jawaban terakhir sang jenderal departement kehakiman militer USA kepada Swagger, ketika dalam pengadilan militer sang Jenderal tidak bisa menuntut keadilan atas tindakan Senator dan Kolonel korup nan kejam Isaac Johnson yang telah melakukan konspirasi & pembunuhan massal di suatu desa di Ethiopia, demi memuluskan rencana pembuatan pipa kilang minyak (*lagi-lagi minyak, huh*) yang melewati desa tersebut.
Saya yakin kalian pernah berpikiran seperti sang Jenderal bukan??? Hmm,, oke deh kalau gak mau ngaku, kalau saya pernah, kadang-kadang, bahkan mungkin sering ^_^.
Apalagi ketika melihat suatu tirani dan ketidakadilan sedang berlangsung sedangkan kita tidak berbuat apa-apa dengan daya dan kekuasaan yang kita miliki sekarang. Yang ada dalam diri kita hanyalah rasa geram dan gemas bahkan emosi, ingin rasanya menumpas ketidakadilan itu, tapi apa daya,,,
Kenyataan nya seperti yang kita lihat memang demikian bukan, di dunia ini keadilan tidak-lah selalu diatas segalanya, tergantung siapa kamu, seberapa tinggi derajatmu (dimata manusia), seberapa banyak uang yang kamu miliki disitulah keadilan berpihak. old story, sad but true,,,
Kita sering mendengar berita bahwa seorang pencuri sandal di masjid babak belur dihakimi massa terus pencuri motor mati digebuki bahkan dibakar massa, pencuri kayu hutan tewas ditembak polisi hutan, dan lain-lain. Tapi kita sangat-sangat jarang sekali bahkan mungkin belum pernah mendengar kabar (burung) sekalipun bahwa seorang koruptor pencuri triliunan uang negara di hukum mati, atau penggelap dana bantuan bencana diusut tuntas, atau seorang cukong kayu di penjara seumur hidup dan lain sebagainya. Yang ada malah sebaliknya, mereka malah bebas dan pongah karena merasa bisa membeli keadilan.
Lantas apakah yg kecil dan lemah selalu tertindas & teraniaya terus? Selama pertanyaan ini belum terjawab, mereka akan selamanya tetap mencari jawabannya dengan berbagai cara, termasuk dengan cara yang salah sekalipun namun dianggap benar, karena menganggap memang ada pembenarannya. Seperti juga caranya seorang raksasa yang terusik wilayahnya, yang akhirnya mencari pembenaran untuk menghancurkan negara lain dengan dalih mencari dan mengadili orang-orang yg telah mengusik wilayahnya. finally bullets talk,,
Duh Gusti,, jadi sedih dan bingung sendiri dengan makna adil & keadilan, apalagi ketika ayat-ayat Mu lah yang di jadikan amunisi peluru pembenaran semua tindakan tersebut.
Hanya Engkaulah yang benar2 tahu maknanya adil,, karena hanya Engkaulah seadil-adilnya Hakim…
Epilog
Kalimat sang jenderal yg ‘baik’ diatas tersebut menyiratkan bahwa seorang Jenderal yg punya kekuasaan pun tidak dapat menegakkan keadilan secara benar-benar di meja pengadilan. Dan secara tidak langsung pula ia mengatakan kalimat tersebut ke Swager untuk melegitimasi bahwa keadilan dapat diperoleh dengan cara apapun termasuk dengan peluru sekalipun.
When bullets talk, which side your bullets into? Coz for me, bullets is a bullet, have no side. It just aimed to whom you judged.
jakarta - tengah malam dikamar kos yang sunyi